Page

Rabu, 07 Desember 2011

Tabarruj Kah.,,??

Wahai Ukhti muslimah….                                        
Di dalam al-Qur’an Allah melarang kalian para kaum wanita (muslimah) bertabarruj sebagaimana bertabarrujnya wanita-wanita jahiliyah. Karena wanita muslimah memiliki akhlak yang membedakannya dengan wanita kafir atau wanita jahiliyah. Akhlak wanita muslimah adalah memelihara diri, sopan, tidak mengumbar tawa dan senyum pada laki-laki lain yang  bukan mahram, menjaga kehormatannya dan pemalu.
Sedangkan wanita jahiliyah suka melakukan tabarruj (menampakkan perhiasan) sehingga menggoda laki-laki yang ada penyakit di dalam hatinya. Kemudian hal itu akan mendorongnya untuk berbuat maksiat, minimal mengajak laki-laki tersebut untuk berzina, yakni zina mata, sebagaimana sabda Nabi bahwa zinanya mata adalah melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allah.
Maka tabarruj adalah membuka dan menampakkan (memamerkan) sesuatu untuk dipandang mata, kita lihat banyak wanita-wanita di sekitar kita yang mana mereka terlalu berlebihan dalam menghias diri sehingga mereka melanggar batas-batas norma agama maupun norma-norma susila. Mereka berbusana tapi pada hakikatnya mereka itu adalah telanjang. Mereka berlomba dalam memamerkan diri untuk menarik perhatian laki-laki mata jalang, mereka obral aurot mereka, tanpa merasa berdosa sedikit pun, busana mereka transparan (tipis) dan ketat sehingga nampak bagian dalam dan lekuk-lekuk tubuh mereka yang indah.
Wahai ukhti muslimah……!!!!!
Mari kita dengarkan nasehat para ulama seputar tabarruj ini.
Az-Zamakhsary berkata, ”hakekat tabarruj adalah memaksakan diri dalam menampakkan sesuatu yang wajib disembunyikan, seperti dikatakan orang arab: ”safinatun baarij, artinya perahu yang tidak memakai atap.
Namun istilah tabarruj ini, dikhususkan bagi kaum wanita yang membuka diri terhadap laki-laki, yaitu dengan memperlihatkan kecantikannya dan perhiasannya apa yang wajib disembunyikan (ditutup) adalah semua bagian tubuh wanita kecuali muka dan telapak tangannya, dan lebih khusus lagi adalah bagian-bagian yang sensitif dan rawan membangkitkan gelora syahwat laki-laki seperti bagian dada, pinggul dan lain-lainnya.
Maka wahai ukhti muslimah, kenakanlah busanamu yang dapat menutup itu semua dengan mengenakan pakaian yang longgar agar tidak nampak lekuk-lekuk tubuhmu dan tidak menjadi fitnah bagi kaum laki-laki.
Wahai ukhti muslimah……!!!!!!!!
Cukuplah bagi kita memahami makna tabarruj ini dari para ahli tafsir di dalam menafsirkan firman Allah:  ”dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahuludan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul baitdan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.(QS. Al ahzab: 33)
Mujahid berkata: ”yaitu wanita keluar dan berjalan di antara kaum laki-laki”. Tentunya dengan maksud agar dilihat oleh mereka.
Qotadah berkata: ”yaitu wanita yang berjalan dengan cara yang dibuat-buat dan memamerkan diri”. Namun yang paling jelas adalah perkataan muqotil di bawah ini;
Muqotil berkata: ”tabarruj adalah wanita melepaskan kerudungnya di atas kepalanya dan tidak mengikatnya, sehingga tampak kalung, anting-anting dan lehernya”.
Sebagaimana yang kita saksikan orang-orang sekarang mereka berlomba-lomba memakai kerudung model seperti ini, mereka pakai kerudung tapi dada dan leher mereka pamerkan. padahal Allah berfirman:
“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka"(QS.al Ahzab:59) dan firman Allah: ”Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka,……….”(QS.Annur: 31)
Wahai ukhti muslimah
Demikianlah bentuk dan model tabarruj wanita jahiliyah tempo dulu, yaitu bercampur bebas dengan laki-laki, berjalan dengan dibuat-buat, mengenakan kerudung dengan cara mempertontonkan kecantikan dan keindahan tubuhnya. Jahiliyah zaman sekarang ini termanifestasi dalam berbagai bentuk dan model tabaruj. Apabila dibandingkan dengan model tabarruj dahulu maka tabarruj jahiliyah itu masih dianggap sebagai suatu macam pemeliharaan diri dan kesopanan (kejahiliyahan sekarang melebihi kejahiliyahan zaman jahiliyah dahulu).
BEBERAPA HAL YANG DAPAT MENGELUARKAN WANITA DARI BATAS TABARRUJ
               
Hal-hal yang bisa menghindarkan seorang wanita muslimah dari batas tabarruj dan selanjutnya diidentifikasikan sebagai adab islam, ialah hendaknya dia dapat melaksanakan adab-adab berikut;
1.       Menundukkan pandangan. Karena perhiasan wanita yang paling berharga adalah sifat malu, sedang sifat malu yang paling menonjol adalah menundukkan pandangan. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat An-Nur ayat 31.
2.       Tidak bergaul bebas dengan laki-laki dengan saling bersentuhan seperti yang terjadi di tempat-tempat kuliah, ruang-ruang seminar di dalam kendaraan dan lain sebagainya pada zaman kita sekarang ini.
Ma’qil bin Yasar meriwayatkan dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam bahwa beliau bersabda :
لأن يطعن فى رأس أحدكم بمخيط من حديد خيراله من أن يمس امرأة لا تحل له
“sungguh, seandainya ditusukkan jarum besi di kepala salah seorang dari kamu adalah lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”  (HR. Thabrani dan Baihaqi)
3.       Pakaiannya harus sesuai dengan adab syari’at Islam. Sedang pakaian syar’ie adalah pakaian yang memiliki ciri-ciri berikut:
a.       Menutup seluruh tubuh selain apa-apa yang dikecualikan oleh al-Qur’an sebagai sesuatu yang biasa tampak darinya, dan menurut suatu pendapat adalah wajah dan telapak tangan.
b.      Tidak tipis atau transparan sehingga tampak kulitnya. Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda:
من أهل النار نساء كاسيات عاريات مائلات مميلات.....لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها
“Bahwasanya di antara calon penghuni neraka ialah wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang condong kepada maksiat dan menarik orang lain (laki-laki lain) untuk berbuat maksiat……mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan menciumbaunya surga.” (HR.Muslim)
Makna ungkapan “berpakaian tapi telanjang” yakni pakaiannya tidak berfungsi menutup bagian yang harus ditutup, sehingga tampak apa-apa yang di dalamnya, karena sangat tipis dan transparan. Beberapa orang dari bani tamim datang kepada Aisyah seraya mengenakan pakaian tipis, lalu Aisyah berkata:
انكنتن مؤمنات فليس هذا بثياب المؤمنات
“kalau anda ini wanita-wanita beriman, maka bukan begini pakaian wanita-wanita beriman”.
       
Seorang wanita yang baru saja menikah bertemu dengan Aisyah dengan memakai kerudung tipis dan transparan, lalu Aisyah berkata: ”wanita yang memakai pakaian ini tidak beriman kepada surat an-Nur.”
c.       Tidak ketat sehingga membentuk batas-batas bagian tubuhnya dan menonjolkan hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah, meskipun tidak tipis dan tidak transparan. Seperti pakaian yang dipopulerkan oleh kebudayaan tubuh dan syahwat- yakni kebudayaan barat. Para perancang mode ini mengadakan perlombaan merancang pakaian yang membentuk payudara bulat, pinggang, punggung, pantat, paha dan lain sebagainya dengan mode yang merangsang naluri seksual dan membangkitkan kesenangan duniawi. Wanita yang memakainya juga termasuk dalam kategori sebagai wanita yang berpakaian tapi telanjang. Pakaian mode ini lebih merangsang dan memicu fitnah dari pada pakaian tipis dan transparan, bahkan dari pada wanita yang telanjang bulat.
d.      Bukan pakaian khusus laki-laki, seperti celana. Karena Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam melaknat wanita tang menyerupai laki-laki sebagaimana beliau melaknat laki-laki yang menyerupai wanita. Nabi juga melarang wanita memakai pakaian laki-laki dan laki-laki mengenakan pakaian wanita.
e.      Bukan pakaian khusus dikenakan oleh orang-orang kafir baik dari kalangan yahudi, nasrani maupun penyembah berhala. Karena kesengajaan menyerupai mereka itu dilarang oleh Islam yang menghendaki laki-laki dan wanita Islam memiliki ciri tersendiri dalam penampilan lahir dan batin. Oleh karena itu Islam memerintahkan umatnya agar berbeda dengan kaum kafir dalam banyak hal. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda:
فمن تشبه بقوم فهو منهم
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka.”
4.       Tenang dan istiqomah di dalam berjalan dan berbicara, seraya menjauhi gerakan-gerakan (tingkah laku) yang tidak baik dalam semua gerakan tubuh dan wajahnya. Karena gerakan-gerakan (tingkah laku) yang dibuat-buat merupakan gerakan lacur, bukan akhlak muslimah. Firman Allah:
“dan hendaklah kamu tetap di rumahmudan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul baitdan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al- Ahzab: 33)
5.       Tidak ada kesengajaan untuk menarik laki-laki pada perhiasannya yang tersembunyi baik dengan wangi-wangian maupun dengan suara. Firman Allah: “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31)
Wanita-wanita jahiliyah apabila berjalan suka menghentak-hentakkan kakinya, agar terdengar suara gelang kakinya, kemudian al-Qur’an melarangnya karena yang demikian itu dapat membangkitkan khayalan kaum laki-laki yang bergelora syahwatnya, di samping menunjukkan niat buruk wanita-wanita yang melakukan hal tersebut.
Marilah kita jaga istri-istri, anak-anak perempuan, dan saudara-saudara wanita kita dari tingkah dan perilaku jahiliyah ini.
Oleh : Abu Hadfi Al-Firdaus
http://isykarima.com/asatidzah/300-tabarrujkah-anda-.html
Posting Komentar